Apa rasanya jadi seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka pada upacara 17 Agustus di Istana Merdeka? Jelas sebuah pengalaman membanggakan. Dan itulah yang dirasakan duta Provinsi Jambi, Mariati Uli Sitompul, siswi SMA Titian Teras.
Mimpi itu jadi kenyataan.
Mimpi mengikuti upacara bendera di Istana Kemerdekaan tak melulu milik
mereka yang berasal dari gedongan. Mariati pun memiliki mimpi itu dan
ternyata, anak seorang tukang tambal ban ini mampu meraih mimpinya
tersebut.
Rasa bangga
pun tak hanya dirasakan Mariati. Sang ayah, Sudung Sitompul mengaku
sangat bangga dengan putrinya itu. Bahkan saking bahagianya, Sudung
rela ke Jakarta dengan merogoh kocek sendiri. Ini demi memberi semangat
agar anaknya makin percaya diri.
Kini,
tugas mengibarkan dan menurunkan bendera dalam upacara HUT ke-66
Kemerdekaan RI di Istana Kemerdekaan yang dipimpin Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, sudah usai. Namun kegiatan Mariati masih sibuk. Usai
mengikuti jamuan makan malam di Istana Kepresidenan, dia masih memiliki
segudang agenda.
Sudung
pun tidak bisa leluasa bertemu Mariati. Menurutnya,Mariati masih
berada dalam pengawasan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sudung mengaku
hanya bisa menemui Mariati sekitar lima menit pada Rabu (17/8) sore
selepas Parade Senja atau upacara penurunan bendera.
Sudung
mengatakan setelah menjalankan tugas, Mariati mendapat jamuan makan
malam di Istana Kepresidenan. Selain itu, Sudung juga mengatakan Mariati
mendapat undangan jamuan makan dari banyak instansi dan pejabat negara
satu di antaranya bersama Menpora Andi Mallarangeng. "Kita dapat dua
undangan untuk besok, tapi di Cibubur," ujar Sudung.
Sebagai
orangtua, Sudung mengaku bangga akan capaian anaknya mewakili Provinsi
Jambi di tingkat nasional, terlebih menjadi anggota Paskibraka. Selain
bangga, Sudung juga mengaku bahagia.
Bagi
Sudung prestasi Mariati merupakan sebuah berkah langsung dari Tuhan
Yang Maha Esa. Ia memandang prestasi Mariati sebagai berkah lantaran
status sosial ekonomi dirasa tidak layak dan cukup untuk mengantar
Mariati meraih satu posisi dalam Paskibraka.
Sudung
mengatakan, diri dan keluarganya tidaklah masuk kategori keluarga
kaya. Sudung mengatakan, penghasilannya sangatlah pas-pasan untuk
mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Sudung mengaku hanya menjadi
tukang tambal ban untuk mencukupi kebutuhannya.
Walau
hanya bekerja sebagai tukang tambal ban, Sudung mengaku ikhlas dan
siap mendukung perkembangan anak-anaknya. Sudung pun mengatakan untuk
memenuhi undangan Presiden ke Jakarta dan mendukung anaknya, ia rela
merogoh kocek sendiri untuk biaya ke Jakarta.
"Tidak ada akomodasi atau tiket dari pemerintah, semua uang pribadi," ujar Sudung.
Agar bekal perjalanannya cukup, Sudung pun mengaku menumpang tinggal di rumah keluarganya yang ada di Jakarta
"Saya sudah tahu. Kita berharap agar jadwal pelantikan bisa ditentukan"
http://id.berita.yahoo.com/kisah-anak-tukang-tambal-ban-ikut-jamuan-makan-222042076.html
http://id.berita.yahoo.com/kisah-anak-tukang-tambal-ban-ikut-jamuan-makan-222042076.html