Pages

Blogger China VS Facebook

Share and Enjoy! :

Seorang blogger asal China, Michael Anti, marah dengan aturan Facebook yang telah membekukan akun pribadinya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya kalah layak memiliki akun dibandingkan anjing milik pendiri .
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg (AP Photo)
 
perusahaan Facebook, Mark Zuckerberg.

Seperti dikutip dari Associated Press, Anti tak bisa mengakses akun Facebook miliknya sejak Januari. Lewat email, ia menerima penjelasan dari Facebook bahwa pembekuan akun dilakukan lantaran penggunaan nama palsu.

Facebook meminta Anti menggunakan namanya aslinya, Zhao Jing. "Saya tidak biasa menggunakan nama China saya," ujar mantan wartawan itu.

Peraturan Facebook mengharuskan seluruh pemegang akun menggunakan nama asli sesuai KTP. Kebijakan itu ditempuh demi meningkatkan akuntabilitas dan keamanan bagi pengguna Facebook.

"Peraturan itu dibuat berdasar penelitian yang kami lakukan serta konsultasi dengan sejumlah pakar perlindungan anak," ujar Direktur Komunikasi Internasional dan Kebijakan Publik Facebook, Debbie Frost.

Anti mengatakan bahwa nama Michael Anti sudah menjadi identitas profesionalnya selama satu dekade. Dengan nama itu juga, ia menerbitkan sejumlah tulisan di media massa dan esai.

Anti berang karena pembekuan akun itu membuatnya kehilangan kontak dengan lebih 1.000 relasi akademik dan profesional yang terjalin sejak ia membuat akun Facebook pada 2007.

"Saya benar-benar marah, anjing Zuckerberg memiliki akun Facebook. Padahal, kiprah jurnalistik dan akademis yang saya lakukan lebih nyata ketimbang seorang anjing," kata peraih beasiswa Universitas Cambridge dan Universitas Harvard itu.

Zuckerberg memang membuatkan anjingnya akun di Facebook lengkap dengan foto dan profil. Namun akun anjing bernama Beast itu dianggap tidak melanggar aturan Facebook karena bukan akun personal, melainkan fan page yang dikhususkan untuk penggemar.

Anti mengatakan, jika kebijakan itu berlanjut akan menyulitkan sejumlah aktivis dan wartawan di China. Sebab, selama ini mereka sering menggunakan nama samaran untuk memgkritisi pemerintah.• VIVAnews