Pages

SULITNYA MEMBUAT TULISAN YANG BERPERASAAN

Share and Enjoy! :


Oleh: Sri Wulandari

Magma Merapi dalam dada menggelegak. Emosinya tertekan hebat. Benak seakan akan penuh dengan timbunan ujaran. Lumpur panas kata kata menyembur deras dari mulutnya. Kalimat kalimat mengalir, tajam dan kritis. Tumpah ruah, menggerojok keluar, menautkan berbagi gagasan dengan cepat. Mengucurkan ide ide yang berseliweran dalam pikiran. Merangkaikan kalimat kalimat menjadi sebuah tulisan yang bertenaga.

Begitulah kira kira perasaan seseorang ketika sedang mood menulis. Solah olah ada yang mengganjal seperti ingin buang hajat, dan merasa lega setelah bisa mengeluarkannya. Sebenarnya, saya tidak suka menulis karena rangsangan otak. Saya ingin menulis dengan perasaan, bertindak secara alami dengan sendirinya, bukan karena pertimbangan intelektual. Oleh karena itu saya selalu terobsesi untuk menulis fiksi. Namun anehnya, berkali kali saya coba tapi tidak pernah jadi saya posting. Karena setiap saya baca ulang, rasanya kok tidak bertenaga, malah terkesan cengeng.

Saya juga selalu penasaran, ingin tahu bagaimana perasaan pembaca saat menyimak tulisan tulisan saya. Karena secara nature, tidak mungkin bagi saya untuk bisa memikirkan pikiran saya atau merasakan perasaan saya sendiri. Seperti halnya saya tidak bisa membayangkan wajah saya sendiri walaupun setiap hari berkaca. Oleh karena itu sayapun juga mustahil untuk bisa menilai tulisan tulisan saya sendiri rasanya seperti apa.

Kadang kadang saya membolak balik, membaca kembali tulisan tulisan saya terdahulu yang sudah hampir saya lupakan. Sambil mengingat ingat bagaimana perasaan saya saat menulis judul judul tersebut. Ini saya lakukan dengan maksud agar saya dapat melihat diri saya sendiri dari kacamata orang lain. Dari situlah akhirnya saya menyadari, ternyata sedikit sekali tulisan tulisan yang telah saya posting bisa dikatakan cukup “nendang” bagi pembaca. Sehingga saya bisa mengambil kesimpulan tentang perlunya menegakkan perasaan ketika harus menulis. Karena muatan emosi yang kita masukkan kedalam sebuah tulisan akan membantu pembaca mudah mencerna isinya.

Dengan demikian sayapun jadi dapat memahami, mengapa seseorang suka menulis surat kepada pacarnya, sedangkan yang lain menumpahkan perasaannya kedalam buku harian. Seorang buruh bangunan juga suka mencoret coret tembok untuk mengekspresikan isi hatinya sebelum mereka melaburnya dengan cat baru. Dan sayapun dengan lantang berani berkata : “Saya tidak akan pernah menyimpan kecewa akibat beratnya masalah kehidupan. Karena saya akan mencurahkannya melalui tut tut keybord agar bisa terposting di Kompasiana”.

Sampai disini tiba tiba otak saya macet, bingung mau melanjutkan menulis apa. Lalu saya berhenti, beranjak membuka pintu rumah, sejenak menghirup udara segar pagi. Langit mendung, tidak tampak matahari. Gerimis sejak subuh tidak mau berhenti sehingga membuat badan saya jadi malas melakukan ini itu. Sepinya pagi menghadirkan suasana tertentu dalam perasaan saya. Melahirkan kesadaran diri yang kecil dan tak berdaya. Bangun, merayap menyusuri hari hari berkabut, mencari jati diri agar menjadi lebih berarti